Sabtu, 18 Februari 2017

MAKALAH BATAKO

KATA PENGANTAR

              P      uji dan Syukur Penyusun Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang bahan bangunan BATAKO.                       

           Dalam penyusunan makalah ini, penyusun banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.       

           Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

           Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.



Rabu, 23 Oktober 2013


Penyusun
DAFTAR ISI    
                                                                                                                       
Kata pengantar ........................................................................... i
Daftar isi ................................................................................... ii
BAB I ........................................................................................ 1
I.I    Pendahuluan .................................................................... 1
I.II   Identifikasi masalah ......................................................... 2
I.III Rumusan masalah ............................................................ 2
I.IV Batasan masalah .............................................................. 3
I.V  Tujuan dan manfaat ......................................................... 3
I.VI Literatur / Tinjau pustaka ................................................ 3
BAB II ..................................................................................... 11
II.I   Dasar teori bahan .......................................................... 11
2.1.1 Bahan Penyusun Batako ...................................... 11
II.II  Dasar teori pembuatan .................................................. 15
2.2.1 Proses pembuatan batako ..................................... 15
BAB III ................................................................................... 19
III.I  METODOLOGI ............................................................. 19
3.1.1 Lokasi dan Alir Survey ......................................... 19
3.1.2 Penyiapan Peralatan ............................................. 19
3.1.3  Survey di lapangan .............................................. 20
III.II FLOW CHART .............................................................. 24
BAB IV ................................................................................... 25
Pembahasan ............................................................................ 25
4.1 Data primer ............................................................. 25
4.2 Survey di lapangan .................................................. 26
BAB V .................................................................................... 27
Kesimpulan dan saran ............................................................. 27

DAFTAR PUSTAKA ............................................................. 28


BAB I

I.I Pendahuluan

Batako adalah campuran antara semen, agregat, dan air dengan atau tanpa bahan tambahan. Batako yang dihasilkan oleh industri kecil pada umumnya adalah batako padat. Batako tersebut dilihat secara langsung menunjukkan kualitas yang cukup baik dengan permukaan yang mulus. Dari hasil peninjauan di lapangan menunjukkan hasil yang dicapai antara industri rumah tangga dalam hal jumlah batako yang dihasilkan dalam satu sak semen. Industri rumah tangga bervariasi antara 60-80 buah batako. batako di lihat dari segi pembuatannya di bagi menjadi tiga:

1.                 Batako trass atau putih.
bahan utama yang di pakai adalah kapur, trass kemudian di campur dengan air. karena itu ada yang menamakan batako jenis ini dengan sebutan batu cetak kapur trass. sedangkan trass adalah: salah satu jenis tanah yang asalnya dari batu gunung berapi yang mengalami pelapukan.
2.                 Batako semen/press.
Batako press dibuat dari campuran semen dan pasir atau abu batu. Ada yang dibuat secara manual (menggunakan tangan) dan ada juga yang menggunakan mesin. Perbedaanya dapat dilihat pada kepadatan permukaan batakonya. Umumnya memliki panjang 36-40 cm dan tinggi 18-20 cm. terdapat lubang di bagian sisinnya untuk pengikat ketika di pasang. lubang tersebut jumlahnya tiga atau dua.
3.                 Bata ringan/Hebel.
Bata ringan dibuat dari bahan batu pasir kuarsa, kapur, semen dan bahan lain yang dikategorikan sebagai bahan-bahan untuk beton ringan.

I.II Identifikasi Masalah

1.       Masalah pertama yang terjadi adalah belum mengetahui proses pembuatan batako secara langsung. Terdiri dari bahan yang di gunakan dalam membuat batako, takaran dalam pencampuran bahan, proses pencetakan batako, ukuran batako, dan lain sebagainnya.

2.       Masalah yang kedua ialah kualitas batako. Banyak dari masyarakat yang kurang teliti dengan kualits dari batako. Kebannyakan orang membeli batako itu di lihat dari segi fisiknya, tapi belum tahu kekuatan atau ketahanan batako itu sendiri.

I.III Rumusan Masalah

Berdasarkan pendahuluan/latar belakang dan identifikasi masalah di atas. Maka rumusan masalah sebagai berikut:
1.     Bagaimana proses pembuatan dari batako?
2.     Bagaimana cara membedakan kualitas batako yang baik dengan kualitas batako yang kurang baik?



I.IV Batasan Masalah

Kejadian dalam dunia pembangunan sangat cepat dalam perkembangannya. Dari keterangan di atas yang paling utama di bahas dari makalah ini adalah proses pembuatan batako. Mulai dari pencampuran sampai akhir yaitu proses couring atau dalam konteks bahasa kita sehari-hari adalah penyiraman dan batako jadinnya. Di dalamnya juga ada pengelompokan batako.

I.V Tujuan dan Manfaat

1.     Agar kita dapat mengetahui proses dari pembuatan batako.
2.     Supaya dapat membedakan kualitas batako.


I.VI Literatur/Tinjau pustaka

1.4.1 Batako
Batako merupakan bahan bangunan yang berupa bata cetak alternatif pengganti batu bata yang tersusun dari komposisi antara pasir, semen Portland dan air dengan perbandingan 1 semen : 4 pasir. Batako difokuskan sebagai konstruksi-konstruksi dinding bangunan nonstruktural. Supribadi (1986) mengatakan bahwa batako adalah “ semacam batu cetak yang terbuat dari campuran tras, kapur, dan air atau dapat dibuat dengan campuran semen, kapur, pasir dan ditambah air yang dalam keadaan pollen (lekat) dicetak menjadi balok-balok dengan ukuran tertentu”. Bentuk dari batako/batu cetak itu sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu batu cetak yang berlubang (hollow block) dan batu cetak yang tidak berlubang (solid block) serta mempunyai ukuran yang bervariasi.

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian batako adalah salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang pengerasannya tidak dibakar dengan bahan pembentuk yang berupa campuran pasir, semen, air dan dalam pembuatannya dapat ditambahkan dengan bahan tambah lainnya (additive). Kemudian dicetak melalui proses pemadatan sehingga menjadi bentuk balok-balok dengan ukuran tertentu dan dimana proses pengerasannya tanpa melalui pembakaran serta dalam pemeliharaannya ditempatkan pada tempat yang lembab atau tidak terkena sinar matahari langsung atau hujan, tetapi dalam pembuatannya dicetak sedemikian rupa hingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pasangan dinding.

Karakteristik bata beton yang umum ada dipasaran adalah memiliki densitas rata-rata > 2000kg/m3. Ditinjau dari densitasnya batako tergolong cukup berat sehingga untuk proses pemasangan sebagai konstruksi dinding memerlukan tenaga yang cukup kuat dan waktu yang lama (Simbolon T. 2009).

Berdasarkan bahan pembuatannya batako dapat dikelompokkan ke dalam 3 jenis, yaitu :

1.                 Batako putih (tras).
Batako putih dibuat dari campuran tras, batu kapur, dan air. Campuran tersebut dicetak. Tras merupakan jenis tanah berwarna putih/putih kecoklatan yang berasal dari pelapukan batu – batu gunung berapi, warnanya ada yang putih dan ada juga yang putih kecoklatan. Umumnya memiliki ukuran panjang 25-3 cm, tebal 8-10 cm, dan tinggi 14-18 cm.
2.                 Batako semen/batako press.
Batako pres dibuat dari campuran semen dan pasir atau abu batu. Ada yang dibuat secara manual (menggunakan tangan) dan ada juga yang menggunakan mesin. Perbedaanya dapat dilihat pada kepadatan permukaan batakonya. Umumnya memliki panjang 36-40 cm dan tinggi 18-20 cm.
3.                 Bata ringan
Bata ringan dibuat dari bahan batu pasir kuarsa, kapur, semen dan bahan lain yang dikategorikan sebagai bahan-bahan untuk beton ringan. Berat jenis sebesar 1850 kg/m3 dapat dianggap sebagai batasan atas dari beton ringan yang sebenarnya, meskipun nilai ini kadang-kadang melebihi. Dimensinya yang lebih besar dari bata konvensional yaitu 60 cm x 20cm dengan ketebalan 7 hingga 10 cm menjadikan pekerjaan dinding lebih cepat selesai dibandingkan bata konvensional.

Batako diklasifikasikan menjadi dua golongan yaitu batako normal dan batako ringan. Batako normal tergolong batako yang memiliki densitas sekitar 2200-2400 kg/m3 dan kekuatannya tergantung komposisi campuran beton (mix design). Sedangkan untuk beton ringan adalah suatu batako yang memiliki densitas < 1800 kg/m3, begitu juga kekuatannya biasanya disesuaikan pada penggunaan dan pencampuran bahan bakunya (mix design). Jenis batako ringan ada dua golongan yaotu : batako ringan berpori (aerated concrete) dan batako ringan non aerated. (Wisnu wijanarko. 2008)

Batako ringan berpori adalah beton yang dibuat sehingga strukturnya banyak terdapat pori-pori, beton semacam ini diproduksi dengan bahan batu dari campuran semen, pasir, gypsum, CaCO3 dan katalis aluminium. Dengan adanya katalis Al selama menjadi reaksi hidradasi semen akan menimbulkan panas sehingga timbul gelembung-gelembung yang menghasilkan gas yang menghasilkan pori-pori yang membuat batako semakin ringan. Berbeda dengan batako non aerated, pada beton ini akan menjadi ringan dalam pembuatannya ditambahkan agregat ringan. Banyak kemungkinan agregat ringan yang digunakan antara lain batu apung (pumice), perlit, serat sintesis, slag baja dan lain-lain. Pembuatan batako ringan berpori tentunya jauh lebih mahal karena menggunakan bahan-bahan kimia tambahan dan mekanisme pengontrolan reaksi cukup sulit.

Batako yang baik adalah yang masing-masing permukaanya rata dan saling tegak lurus serta mempunyai kuat tekan yang tinggi. Persyaratan batako menurut PUBI 1982 pasal 6 antara lain adalah “ permukaan batako harus mulus, berumur minimal satu bulan, pada waktu pemasangan harus sudah kering, berukuran panjang 400 mm, lebar 200 mm dan tebal 100-200 mm, kadar air 25-35 % dari berat, dengan kuat tekan antara 2-7 N/mm2”.

Sebelum dipakai dalam bangunan, maka batako minimal harus sudah berumur satu bulan dari proses pembuatannya, kadar air pada waktu pemasangan tidak lebih dari 15 %. Agar didapat mutu batako yang memenuhi syarat SI banyak faktor yang mempengaruhi.

Faktor yang mempengaruhi mutu batako tergantung pada :
1.                 Faktor air semen
2.                 Umur batako
3.                 Kepadatan batako
4.                 Bentuk dan struktur batuan
5.                 Ukuran agregat, dan lain-lain.

Ada beberapa keuntungan dan kerugian dalam penggunaan batako. Keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan batako adalah:

1.  Tiap m2 pasangan tembok, membutuhkan lebih sedikit batako jika dibandingkan dengan menggunakan batu bata, berarti secara kuantitatif terdapat suatu pengurangan.
2.  Pembuatan mudah dan dapat dibuat secara sama.
3.  Ukurannya besar, sehingga waktu dan ongkos juga lebih hemat.
4.  Khusus jenis yang berlubang dapat befungsi sebagai isolasi udara.
5.  Apabila pekerjaan rapi, tidak perlu diplester.
6.  Lebih mudah dipotong untuk sambungan tertentu yang membutuhkan potongan.
7.  Sebelum pemakaian tidak perlu direndam air.

Sedangkan kerugian pemakaian batako adalah sebagai berikut :
1.     Karena proses pengerasannya membutuhkan waktu yang cukup lama ( 3 minggu), maka butuh waktu yang lama untuk membuatnya sebelum memakainya.
2.     Bila diinginkan lebih cepat mengeras perlu ditambah dengan semen, sehingga menambah biaya pembuatan.
3.     Mengingat ukurannya cukup besar, dan proses pengarasannya cukup lama mengakibatkan pada saat pengangkutan banyak terjadi batako pecah.

Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian batako adalah salah satu bahan bangunan yang berupa batu-batuan yang pengerasannya tidak dibakar dengan bahan pembentuk yang berupa campuran pasir, semen, air dan dalam pembuatannya dapat ditambahkan dengan bahan tambah lainnya (additive). Kemudian dicetak melalui proses pemadatan sehingga menjadi bentuk balok-balok dengan ukuran tertentu dan dimana proses pengerasannya tanpa melalui pembakaran serta dalam pemeliharaannya ditempatkan pada tempat yang lembab atau tidak terkena sinar matahari langsung atau hujan, tetapi dalam pembuatannya dicetak sedemikian rupa hingga memenuhi syarat dan dapat digunakan sebagai bahan untuk pasangan dinding.

1.4.2 Klasifikasi Batako

Berdasarkan PUBI 1982, sesuai dengan pemakaiannya batako diklasifikasikan dalam beberapa kelompok sebagai berikut :
1.     Batako dengan mutu A1, adalah batako yang digunakan untuk konstruksi yang tidak memikul beban, dinding penyekat serta konstruksi lainnya yang selalu terlindungi dari cuaca luar.
2.     Batako dengan mutu A2, adalah batako yang hanya digunakan untuk hal-hal seperti dalam jenis A1, tetapi hanya permukaan konstruksi dari batako tersebut boleh tidak diplester.
3.     Batako dengan mutu B1, adalah batako yang digunakan untuk konstruksi yang memikul beban, tetapi penggunaannya hanya untuk konstruksi yang terlindungi dari cuaca luar ( untuk konsruksi di bawah atap).
4.     Batako dengan mutu B2, adalah batako untuk konstruksi yang memikul beban dan dapat digunakan untuk konstruksi yang tidak terlindungi. (Darmono, 2009)

1.4.3 Beton Ringan (Lighweight Concrete)

Pembuatan beton ringan pada prinsipnya membutuhkan rongga didalam beton. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk membuat beton lebih ringan adalah sebagai berikut :
1.     Dengan membuat gelembung – gelembung gas / udara dalam adukan semen sehingga terjadi banyak pori - pori udara di dalam betonnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan menambah bubuk aluminium ke dalam campuran adukan beton.
2.     Dengan menggunakan agregat ringan, misalnya tanah liat bakar, batu apung atau agregat buatan sehingga beton yang dihasilkan akan lebih ringan dari pada beton biasa.
3.     Dengan cara membuat beton tanpa menggunakan butir – butir agregat halus atau pasir yang disebut beton non pasir.

Keuntungan lain dari beton ringan antara lain : memiliki nilai tahan panas yang baik, memiliki tahanan suara (peredam) yang baik, tahan api. Sedangkan kelemahan beton ringan adalah nilai kuat tekannya lebih kecil dibandingkan dengan beton normal sehingga tidak dianjurkan penggunaanya untuk struktural.
Secara garis besar pembagian penggunaan beton ringan dapat dibagi tiga yaitu ( Tjokrodimuljo,1996) :

1.     Untuk non struktur dengan nilai densitas antara 240 – 800 kg/m3 dan kuat tekan dengan nilai 0,35 – 7 MPa digunakan untuk dinding pemisah atau dinding isolasi.
2.     Untuk struktur ringan dengan nilai densitas antara 800 – 1400 kg/m3 dan kuat tekan dengan nilai 7 – 17 MPa digunakan dengan dinding memikul beban.
3.     Untuk struktur dengan nilai densitas antara 1400 – 1800 kg/m3 dan kuat tekan > 17MPa digunakan sebagai beton normal.

Pembagian beton ringan menurut penggunaan dan persyaratannya dibagi atas (wisnu wijanarko. 2008) :

1.     Beton dengan berat jenis rendah (Low Density Concrete) dengan nilai densitas 240 – 800 kg/m3 dan nilai kuat tekan 0,35 – 6,9 MPa.
2.     Beton dengan menengah (Moderate Trenght Lighweight Concrete) dengan nilai densitas 800 – 1440 kg/m3 dan nilai kuat tekan 6,9 – 17,3 MPa.
3.     Beton ringan struktur (Structural Lighweight Concrete) dengan nilai densitas 1440 – 1900 kg/m3 dan nilai kuat tekan > 17,3 MPa.




BAB II

II.I Dasar teori bahan

2.1.1 Bahan Penyusun Batako

Dalam pembuatan batako pada umumnya bahan yang digunakan adalah pasir, semen dan air. Berikut ini akan dijelaskan sekilas mengenai bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan batako.

1.     Portland Cement (PC)

Semen adalah bahan yang mempunyai sifat adhesif dan sifat kohesif yang digunakan sebagai bahan pengikat (bonding material) yang dipakai bersama dengan batu kerikil, pasir dan air. Portland semen merupakan bahan utama atau komponen beton terpenting yang berfungsi sebagai bahan pengikat anorganik dengan bantuan air dan mengeras secara hidrolik.

Semen Portland adalah material yang mengandung paling tidak 75 % kalsium silikat (3CaO. dan 2CaO, sisanya tidak berkurang dari 5% berupa Al silikat, Al ferit silikat, dan MgO. Pada dasarnya dapat disebutkan 4 unsur yang paling terpenting dari Portland Cement adalah : 2SiO2SiO)

1. Trikalsium Silikat (C3S) atau 3CaO.SiO2
2. Dikalsium Silikat (C2S) atau 2CaO.SiO2
3. Trikalsium Aluminat (C3A) atau 3CaO.Al2O3
4. Tetrakalsium Aluminoferit (CAAF) atau 4CaO.Al2O3.FeO3

Semen portland yang digunakan sebagai bahan struktur harus mempunyai kualitas yang sesuai dengan ketepatan agar berfungsi secara efektif. Pemeriksaan dilakukan terhadap yang masih berbentuk kering, pasta semen yang masih keras dan beton yang dibuat darinya.

Sifat kimia yang perlu mendapat perhatian adalah kesegaran semen itu sendiri. Semakin sedikit kehilangan berat berarti semakin sedikit kesegaran semen. Dalam keadaan normal kehilangan berat sebesar 2% dan maksimum kehilangan yang diijinkan 3%. Kehilangan berat terjadi karena adanya kelembaban dan karbondioksida dalam bentuk kapur bebas atau magnesium yang menguap.

2. Pasir

Pasir merupakan bahan pengisi yang digunakan dengan semen untuk membuat adukan. Selain itu juga pasir berpengaruh terhadap sifat tahan susut, keretakan dan kekerasan pada batako atau produk bahan bangunan campuran semen lainnya.

Pada pembuatan batako ringan ini digunakan pasir yang lolos ayakan kurang dari 5 mm (ASTM E 11-70) dan harus bermutu baik yaitu pasir yang bebas dari lumpur, tanah liat, zat organik, garam florida dan garam sulfat. Selain itu juga pasir harus bersifat keras, kekal dan mempunyai susunan butir (gradasi) yang baik. Menurut Persyaratan Bangunan Indonesia agregat halus sebagai campuran untuk pembuatan beton bertulang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1.    Pasir harus terdiri dari butir-butir kasar, tajam dan keras.
2.    Pasir harus mempunyai kekerasan yang sama.
3.    Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%, apabila lebih dari 5% maka agregat tersebut harus dicuci dulu sebelum digunakan. Adapun yang dimaksud lumpur adalah bagian butir yang melewati ayakan 0,063 mm.
4.    Pasir harus tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalu banyak.
5.    Pasir harus tidak mudah terpengaruh oleh perubahan cuaca.
6.    Pasir laut tidak boleh digunakan sebagai agregat untuk beton.
(Wijanarko, W.2008)

3. Air

Air yang dimaksud disini adalah air yang digunakan sebagai campuran bahan bangunan, harus berupa air bersih dan tidak mengandung bahan-bahan yang dapat menurunkan kualitas batako. Menurut PBI 1971 persyaratan dari air yang digunakan sebagai campuran bahan bangunan adalah sebagai berikut:

1.    Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam alkali, garam-garam, bahan-bahan organik atau bahan lain yang dapat merusak dari pada beton.
2.    Apabila dipandang perlu maka contoh air dapat dibawa ke Laboratorium Penyelidikan Bahan untuk mendapatkan pengujian sebagaimana yang dipersyaratkan.
3.    Jumlah air yang digunakan adukan beton dapat ditentukan dengan ukuran berat dan harus dilakukan setepat-tepatnya.

Air yang digunakan untuk proses pembuatan beton yang paling baik adalah air bersih yang memenuhi syarat air minum. Jika dipergunakan air yang tidak baik maka kekuatan beton akan berkurang. Air yang digunakan dalam proses pembuatan beton jika terlalu sedikit maka akan menyebabkan beton akan sulit dikerjakan, tetapi jika air yang digunakan terlalu banyak maka kekuatan beton akan berkurang dan terjadi penyusutan setelah beton mengeras.(Wijanarko, W. 2008)

4. Sabut Kelapa

Sabut kelapa mempunyai struktur yang serupa dengan peredam yang telah ada. Di sisi lain, kelapa dihasilkan di Indonesia dalam jumlah besar. Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 1997, areal perkebunan kelapa di Indonesia mencapai luas 3.759.397 ha. Dan menurut humas Departemen Pertanian, produksi kelapa di Indonesia pada tahun 2002 mencapai 85 juta ton kelapa kering (kopra).

Dari hasil panen kelapa yang melimpah di Indonesia, tentunya akan dihasilkan produk sampingan berupa sabut kelapa yang sangat melimpah. Karena sabut kelapa yang dihasilkan dari sebuah Kelapa adalah sekitar 35% berat buah. Namun, belum semua sabut kelapa yang ada dimanfaatkan dengan optimal.

Sabut kelapa mengandung lemak yang dapat membuat ikatan antara semen, pasir dan air dengan sabut kelapa menjadi tidak kuat sehingga dapat membentuk pori pada batako. Untuk itu diperlukan cairan NaOH atau alkohol untuk dapat melepaskan lemak pada sabut kelapa tersebut.



II.II Dasar teori pembuatan

          Saat ini beton sangat umum dan telah dibuktikan oleh waktu sebagai bahan dinding yang tahan gempa. Beton atau yang umum di kenal di masyarakat dengan sebutan batako ini dapat di produksi dengan tangan dan mesin.

2.2.1  Proses pembuatan batako:

Ø    Bahan – bahan yang diperlukan untuk membuat batako adalah :
*                Semen
*                Kerikil kasar
*                Pasir halus (ukuran 5mm)
*                Air
               Bahan baku yang terdiri dari pasir, semen dan air harus memiliki perbandingan 75:20:5. Perbandingan komposisi bahan baku ini adalah sesuai dengan Pedoman Teknis yang di keluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum tahun 1986.

Ø    Peralatan yang diperlukan :
*                Cetakan batako
*                Ayakan pasir
*                Kotak adukan
*                Sendok semen
*                Sekop
*                Cangkul
*                Ember dan ember penyiram
*                Plastik (untuk menjaga kelembaban)

Ø    Persiapan :
               Siapkan perkakas, peralatan dan bahan. Ayak pasir pertama dengan ayakan pasir 1 cm2  untuk memisahkan batu-batu yang besar. Lalu ayak lagi dengan ayakan yang lebih kecil untuk mendapatkan pasir halus. Pasir harus bersih dari kotoran, sampah dan lumpur.

Ø    Mengaduk Beton :
1.                 Taburkan sejumlah pasir yang telah diukur setebal 10 cm di kotak adukan.
2.                 Tuang semen di atas pasir dan aduk keduanya secara bersama-sama           sampai warna keduanya tercampur.
3.                 Bentuk adukan menjadi gundukan, dan buat lubang seperti   cekungan di tengah.
4.                 Siram dengan sedikit air secara perlahan dan aduk sampai terbentuk           pasta yang merata.
5.                 Jika menggunakan kerikil, sekarang tambahkan dalam takaran yang           sesuai kerikil dan aduk hingga setiap kerikil terlapisi secara merata.
6.                 Periksa adukan: ambil segenggam penuh adukan dan bentuk seperti         bola kecil. Jika bola tersebut tidak retak, dan tangan sedikit basah,         adukan siap untuk dicetak.
7.                 Untuk perbandingan adukannya digunakan 1 bagian semen bermutu       baik + 2 bagian pasir sungai yang  bersih + 3 bagian kerikil + Air           secukupnya.

Ø    Langkah selanjutnya adalah siapkan alat cetakan:
1.                 Masukkan adukan beton kedalam ember.
2.                 Tempatkan bagian bawah cetakan ke tempat yang benar (di bawah          atap atau tempat teduh lainnya).
3.                 Beri oli dibawah cetakan.
4.                 Tuang adukan beton kedalam cetakan.
5.                 Letakkan alat tekan cetakan di atas bagian bawah cetakan.
6.                 Tekan alat tekan lurus ke bawah hingga “bagian kakinya”     menyentuh lantai pada ke dua sisi.
7.                 Injak dengan kaki ke atas “kaki” alat tekan cetakan, tekan cetakan,           ambil pegangan bagian bawah cetakan, perlahan – lahan  angkat    bagian atas cetakan.
8.                 Letakkan bagian bawah cetakan ke tanah secara perlahan.
9.                 Keluarkan peralatan tekan dari bagian bawah cetakan. pisahkan ke           samping.
10.            Perlahan-lahan angkat bagian bawah cetakan ke atas, dan     tempatkan di samping batako yang baru jadi.
11.            Biarkan batako yang baru selama 1 hari, jangan kena sinar   matahari langsung .
12.            Setelah 1 hari, batako ditumpuk dan dilakukan curing selama         seminggu.

               Bersihkan cetakan dari debu dan beri minyak lagi di cetakan dan batako berikutnya siap dicetak. batako dipasaran:
v Batako Tras/Putih panjang 20 cm–30 cm, tebal 8 cm–10 cm, dan tinggi 14 cm–18 cm.
v Batako Semen memiliki panjang 36 cm–40 cm, tinggi 18 cm–20 cm dan tebal 8 cm–10 cm.
v Batako Ringan dimensinya yang lebih besar dari bata konvensional yaitu 60 cm x 20cm dengan ketebalan 7 hingga 10 cm.




















BAB III
METODOLOGI

3.1.1 Lokasi dan Alir Survey

          Survei yang akan dilakukan yaitu pada industri kecil yang berada di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Jl. Raya Warungdowo. Industri kecil yang digunakan sebagai objek survey yaitu industri kecil yang mempunyai lahan usaha serta pekerja yang cukup memadai dalam pembuatan batako. Dan bagan alur survey kami adalah seperti pada bagan flowchart yang dilampirkan.

          sebelum survey dimulai, yang perlu dilakukan adalah: mengerti teori dari batako, definisi batako, jenis-jenis batako, ukuran batako, dan lain-lain yang mengenai tentang batako dinding.

3.1.2 Penyiapan Peralatan

          Peralatan yang digunakan untuk survey di lapangan, terdiri atas :
·        kamera: untuk mendokumentasikan gambar.
·        alat tulis dan buku tulis: untuk mencatat hal-hal yang penting dalam survey
·        perekem suara: untuk merekam suara narasumber. bertujuan untuk bahan evaluasi.




3.1.3  Survey di lapangan

          Industri kecil yang bernama Raja Tegel Sejagat. industri yang berlokasi di RT/RW 003/011 ini berdiri sejak tahun 90-an. dan perkembanganya sampai sekarang sudah lumayan berkembang. industri Raja Tegel Sejagat ini memproduksi: Batako, Betonbis, dan Paving. yang di survey kali ini adalah Batako Press (semen).

          Batako press disini terbuat dari campuran pasir, semen gresik, sedikit air, dan di tambah dengan abu batu. Abu batu disini berfungsi untuk memperkuat batako. bahan-bahan di industri sini mendapat dari lingkungan sekitar pasuruan saja.

v          Proses Pembuatan

o         Bahan – bahan yang diperlukan untuk membuat batako                  adalah :
*                   Semen
*                   Pasir
*                   Air
*                   Abu batu
                   Bahan baku yang terdiri dari pasir, semen, abu batu dan air ini memiliki perbandingan 75 : 20 : 2 : 3.

o         Peralatan yang diperlukan :
*                   Mesin Cetakan batako
*                   Ayakan pasir
*                   Kotak adukan
*                   Sendok semen
*                   Sekop
*                   Cangkul
*                   Ember dan ember penyiram

o         Persiapan  
           Siapkan perkakas, peralatan dan bahan. Ayak pasir pertama dengan ayakan pasir 1 cm2  untuk memisahkan batu-batu yang besar. Lalu ayak lagi dengan ayakan yang lebih kecil untuk mendapatkan pasir halus. Pasir harus bersih dari kotoran, sampah dan lumpur.

o         Pencampuran
IMG0338A.jpg
E    Taburkan sejumlah pasir di mesin pencmpur
E    Tuang semen di atas pasir dan aduk keduanya secara            bersama-sama sampai warna keduanya tercampur. 1 bal                 semen dapat menghasilkan 60 biji batako press.
E    Siram dengan sedikit air bercampur dengan abu batu secara perlahan dan aduk sampai terbentuk pasta yang merata.
E    Periksa adukan: ambil segenggam penuh adukan dan bentuk           seperti bola kecil. Jika bola tersebut tidak retak, dan tangan            sedikit basah, adukan siap untuk dicetak.

o         Cetak
IMG0333A.jpg IMG0332A.jpg 
IMG0329A.jpg
E    Masukkan adukan beton kedalam ember
E    Tempatkan bagian bawah cetakan ke tempat yang benar (di bawah atap atau tempat teduh lainnya)
E    Beri oli dibawah cetakan
E    Tuang adukan beton kedalam cetakan
E    Tekan alat tekan cetakan di atas bagian bawah cetakan
E    Letakkankan alat tekan lurus ke bawah hingga “bagian                   kakinya” menyentuh lantai pada ke dua sisi
E    Injak dengan kaki ke atas “kaki” alat tekan cetakan, tekan     cetakan, ambil pegangan bagian bawah cetakan, perlahan –   lahan  angkat bagian atas cetakan
E     Letakkan bagian bawah cetakan ke tanah secara perlahan
E    Keluarkan peralatan tekan dari bagian bawah cetakan.                    pisahkan ke samping.
E    Perlahan-lahan angkat bagian bawah cetakan ke atas, dan     tempatkan di samping batako yang baru jadi
E    Biarkan batako yang baru selama 1 hari, jangan kena sinar   matahari langsung
E    Bersihkan cetakan dari debu dan beri minyak lagi di cetakan           dan batako berikutnya siap dicetak.

o         Couring/Penyiraman
E    Setelah 1 hari, batako ditumpuk dan dilakukan curing selama seminggu .
E    1 hari 1 kali di lakukan penyiraman, selama 1 minggu. proses inilah yang membuat batako press itu kuat.

IMG0342A.jpg          industri Raja Tegel Sejagat dapat memproduksi Batako press 1000 - 1500 biji/ hari. dan keluar 1500 - 2000 setiap harinnya atau tergantung pada pesanan. harga batako press Rp 2.100 / biji. jika pesan tergantung jarak dekat-jauhnya tempat pemesan. biasannya kalau mengirim ke daerah kota Rp 2.500 - 2.600 / biji.
          ukuran batako press yang di produksi disini adalah : 40 x 18 x 10. dengan berat batako 10kg / bijinnya . batako yang baik kualitasnya itu tidak gampang protol. kalau batako yang gampang protol itu kurang baik kualitasnya.

FLOW CHART



BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Data Primer

  • Batako pres dibuat dari campuran semen PC dan pasir atau abu batu.
  • Ada yang dibuat secara manual (menggunakan tangan), ada juga yang menggunakan mesin. Perbedaannya bisa dilihat pada kepadatan permukaan batakonya.
  • Umumnya memiliki ukuran panjang 36-40 cm, tebal 8–10 cm, dan tinggi 18-20 cm.
  • Untuk dinding seluas 1 m2, kira-kira membutuhkan:
1.     Batako pres = 15 buah
2.     Semen PC = 0,125 sak
3.     Pasir ayak (pasir pasang} = 0,015 m3
  • Kelebihan dinding batako pres:
1.     Kedap air sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya rembesan air.
2.     Pemasangan lebih cepat.
3.     Penggunaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 – 12 m2.
  • Kekurangan dinding batako pres:
1.     Harga relatif lebih mahal dibanding batako tras.
2.     Mudah terjadi retak rambut pada dinding.
3.     Mudah dilubangi karena terdapat lubang pada bagian sisi dalamnya.



4.2 Survey di lapangan

o        batako pres dibuat dari campuran: pasir, semen gresik, abu batu dan air           secukupnnya.
o        dibuat dengan menggunakan mesin.
o        ukuran panjang: 40 cm lebar 10 cm, dan tinggi 18 cm.
o        batako press tidak gampang protol di bandingkan dengan batako trass.


















BAB V
Kesimpulan dan saran

5.1.    Kesimpulan

          Dari hasil survey batako press di atas. kita dapat mengetahui bagaimana proses pembuatan batako. mulai dari kelebihan batako sampai kekurangan batako. dapat disimpulkan disini batako itu bisa jadi pengganti batu bata merah. selain dari harga murah, untuk proses pembangunnanya juga cepat. batako yang kuat itu batako yang tidak mudah protol kalau dicuil.

5.2.    Saran

1.     Sebaiknya agregatnya pakai yang halus yang terhindar dari sampah, kandungan lumpur yang agak banyak, atau kotoran-kotoran yang lain.
2.     untuk air sebaiknya menggunakan air sumber yang bersih dan jernih. jangan air-air kotor, atau sisa-sisa air rumah tangga.